<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Anakkemarinsore&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://hanifahnafiatin.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hanifahnafiatin.wordpress.com</link>
	<description>obrak-abrik, complicated!</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Jan 2012 16:24:16 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='hanifahnafiatin.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/ab86705dd6b46884bb9899fe85b83c3b?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Anakkemarinsore&#039;s Blog</title>
		<link>http://hanifahnafiatin.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://hanifahnafiatin.wordpress.com/osd.xml" title="Anakkemarinsore&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://hanifahnafiatin.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>MATAHATI</title>
		<link>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/12/04/matahati/</link>
		<comments>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/12/04/matahati/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2011 15:28:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anakkemarinsore</dc:creator>
				<category><![CDATA[si Anak Kemarin Sore]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanifahnafiatin.wordpress.com/?p=676</guid>
		<description><![CDATA[MATAHATI Terlalu dangkal pemikiran saya tentang peran matahati dalam hidup ini. Seorang beragama, mestinya yakin bahwa pedoman hidupnya adalah Kitab dan Sunnah yang diwariskan kepada umat manusia. Saya hampir terjerumus [atau bahkan sebenarnya tidak, entahlah saya tidak tau] dengan pandangan bahwa matahati adalah hal paling berharga yang manusia miliki untuk menentukan sikapnya. Saat manusia menemukan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifahnafiatin.wordpress.com&amp;blog=7950156&amp;post=676&amp;subd=hanifahnafiatin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>MATAHATI</p></blockquote>
<p>Terlalu dangkal pemikiran saya tentang peran matahati dalam hidup ini. Seorang beragama, mestinya yakin bahwa pedoman hidupnya adalah Kitab dan Sunnah yang diwariskan kepada umat manusia. Saya hampir terjerumus [atau bahkan sebenarnya tidak, entahlah saya tidak tau] dengan pandangan bahwa matahati adalah hal paling berharga yang manusia miliki untuk menentukan sikapnya.</p>
<p>Saat manusia menemukan kejanggalan dalam hidupnya, yang perlu dipercayainya hanyalah matahatinya. tentu saja, ketajaman matahati itu harus diasah terus agar tidak justru menjebak si empunya. Ya, simpulan sederhana tentang matahati ini baru satu.</p>
<blockquote><p>MATAHATI bagaikan pisau analisis. Ketika yang tampak tidak bisa dicerna secara logis, merujuklah pada matahati. Tiap manusia pasti punya itu. Berdasarkan pengetahuan empirisnya, ia makin tajam bila ia makin banyak pengalaman.</p></blockquote>
<p>Sayang, tidak semua berjalan demikian [baca: sesuai simpulan di atas]. nyatanya, manusia masih terjebak pada masalah yang sama yang pernah dialami atau jatuh pada lubang yang sama, termasuk soal ASMARA. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />  Gagal teroooos.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanifahnafiatin.wordpress.com/676/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanifahnafiatin.wordpress.com/676/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanifahnafiatin.wordpress.com/676/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanifahnafiatin.wordpress.com/676/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanifahnafiatin.wordpress.com/676/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanifahnafiatin.wordpress.com/676/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanifahnafiatin.wordpress.com/676/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanifahnafiatin.wordpress.com/676/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanifahnafiatin.wordpress.com/676/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanifahnafiatin.wordpress.com/676/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanifahnafiatin.wordpress.com/676/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanifahnafiatin.wordpress.com/676/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanifahnafiatin.wordpress.com/676/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanifahnafiatin.wordpress.com/676/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifahnafiatin.wordpress.com&amp;blog=7950156&amp;post=676&amp;subd=hanifahnafiatin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/12/04/matahati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.392695 108.287545</georss:point>
		<geo:lat>-6.392695</geo:lat>
		<geo:long>108.287545</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/901265f20025b65a51b12e213dfcb015?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hanifahnafiatin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dare Sister&#8230;.</title>
		<link>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/12/04/672/</link>
		<comments>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/12/04/672/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2011 14:54:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anakkemarinsore</dc:creator>
				<category><![CDATA[si Anak Kemarin Sore]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanifahnafiatin.wordpress.com/?p=672</guid>
		<description><![CDATA[Tumpul, bila lama tak kau asah. Liar, bila lama hilang asih. Dan seorang kakak harus mau mengasuh adiknya. [what?? penutup macam apa ini? hahaa] Saya perempuan. cukup lama menjadi seorang perempuan, 23 tahun lebih 6 bulan. Pada usia saya ke-22, saya dikaruniai seorang adik. Tentu saja, itu berarti orangtua saya dikaruniai seorang anak lagi. Ketika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifahnafiatin.wordpress.com&amp;blog=7950156&amp;post=672&amp;subd=hanifahnafiatin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tumpul, bila lama tak kau asah.</p>
<p>Liar, bila lama hilang asih.</p>
<p>Dan seorang kakak harus mau mengasuh adiknya. [what?? penutup macam apa ini? hahaa]</p>
<p>Saya perempuan. cukup lama menjadi seorang perempuan, 23 tahun lebih 6 bulan. Pada usia saya ke-22, saya dikaruniai seorang adik. Tentu saja, itu berarti orangtua saya dikaruniai seorang anak lagi. Ketika para rekan sebaya mereka menimang cucu, orangtua terbaik yang saya miliki menimang anak bungsu mereka [setidaknya ini asumsi saya. mereka tidak mungkin menambah anak lagi di sisa usia].</p>
<p>Adik ini adalah adik saya satu-satunya. Dia laki-laki. Kuberi ia nama, Mosi. Mengenai latar belakang munculnya nama itu, silakan baca postingan saya sebelumnya.</p>
<p>Banyak yang tanya, soal perasaan saya setelah lahirnya si bungsu. Saya jawab tak terlalu banyak berubah. Oh, sungguh maksud saya dengan kalimat itu adalah:</p>
<blockquote><p>Saya memang tidak manja ketika saya masih menyandang status Anak Bungsu. Jadi, tidak ada kecemburuan dalam diri saya layaknya Babyblues yang menjangkiti beberapa orang setelah kelahiran seorang bayi. Tak ada pula kekhawatiran yang berarti soal jatah uang bulanan. Pokoknya, secara lahir dan batin saya siap punya adik. And i&#8217;m so glad of having a baby in the house.</p></blockquote>
<p>SICK! Pertengahan usia adik saya dari perhitungan satu tahun, Saya mulai rasakan riak-riak yang akan mengubah hidup saya selanjutnya. Waktu itu, saya mulai kosong dari aktivitas kampus yang menyita waktu. Saya jadi rajin pulang ke rumah. Terlebih, Saya tinggal mengerjakan skripsi sehingga cukup waktu untuk &#8230; yaaa setidaknya dua minggu sekali pulang kampung. Nah, beranjak tumbuh dan berkembang, adik saya menampakkan dirinya. sebenar-benarnya dirinya. haha&#8230; aktivitasnya sering berlebihan. Orangtua saya kelelahan mengurusi bayi baru ini. Saudara pun sudah tak bisa lagi sering dimintai untuk menjaga bayi. Intinya, orangtua saya seperti pasangan hidup yang kembali merasakan masa-masa awal pernikahan mereka. Tantangannya cukup berat. Mereka kewalahan dan Saya pun dilibatkan.</p>
<p>Ini pengalaman pertama buat saya. 22 tahun hidup berduet dengan kakak [yang tidak terlalu intim-intim amat hubungan kami berdua] beda dengan tahun 2010 dan tahun 2011 ini. ketika konsep hidup dalam keluarga berubah menjadi trio. Tak usah dijawab, tapi pertanyaannya perlu saya sampaikan. Siapa yang diminta mengasuh si bayi ketika kakak saya satu-satunya memutuskan menikah di pertengahan tahun 2011 ini?</p>
<p>Tuhan, sungguh saya tidak mengeluhkan keadaan. Ketika teman-teman sebaya saya sibuk meniti karir mereka selepas kuliah, saya baru belajar jadi kakak yang baik. saya baru belajar jadi anak yang berbakti pada ibu dan bapak.</p>
<p>Saya punya banyak mimpi dan masih terus bermimpi. Saya belum mendapatkan kesempatan untuk membuatnya nyata. Mungkin nanti, mungkin di penghujung tahun 2011 ini. mungkin tuhan masih berbaik hati menakdirkan saya hidup sesuai impian saya. Semoga.. semoga .. semoga&#8230; semoga&#8230;.XD</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanifahnafiatin.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanifahnafiatin.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanifahnafiatin.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanifahnafiatin.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanifahnafiatin.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanifahnafiatin.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanifahnafiatin.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanifahnafiatin.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanifahnafiatin.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanifahnafiatin.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanifahnafiatin.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanifahnafiatin.wordpress.com/672/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanifahnafiatin.wordpress.com/672/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanifahnafiatin.wordpress.com/672/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifahnafiatin.wordpress.com&amp;blog=7950156&amp;post=672&amp;subd=hanifahnafiatin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/12/04/672/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.392695 108.287545</georss:point>
		<geo:lat>-6.392695</geo:lat>
		<geo:long>108.287545</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/901265f20025b65a51b12e213dfcb015?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hanifahnafiatin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>I Must Love Myself</title>
		<link>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/12/04/i-must-love-myself/</link>
		<comments>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/12/04/i-must-love-myself/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2011 14:09:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anakkemarinsore</dc:creator>
				<category><![CDATA[si Anak Kemarin Sore]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanifahnafiatin.wordpress.com/?p=669</guid>
		<description><![CDATA[Gue sering enggan cerita masalah pribadi karena gue sering mempertanyakan, &#8220;Seberapa penting kisah resah dan keluh kesah gue ini dibandingkan masalah sosial yang menyangkut kepentingan banyak orang?&#8221; Nyatanya emang sangat tidak penting. Derajatnya di bawah banget kalo diliat dari gede-gedean nilai kepentingannya. terlebih, gue yang cenderung cuek sama masalah selalu enjoy dan bisa lupain apa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifahnafiatin.wordpress.com&amp;blog=7950156&amp;post=669&amp;subd=hanifahnafiatin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gue sering enggan cerita masalah pribadi karena gue sering mempertanyakan, &#8220;Seberapa penting kisah resah dan keluh kesah gue ini dibandingkan masalah sosial yang menyangkut kepentingan banyak orang?&#8221;</p>
<p>Nyatanya emang sangat tidak penting. Derajatnya di bawah banget kalo diliat dari gede-gedean nilai kepentingannya. terlebih, gue yang cenderung cuek sama masalah selalu enjoy dan bisa lupain apa yang konyol dari diri gue.</p>
<p>Tapi, kadang-kadang muncul pikiran lain. &#8220;Loh, sayang juga kalo cerita-cerita yang gue alamin nggak pernah gue bagiin lewat tulisan/dongeng yang gue ceritakan ke orang lain. siapa tau bisa bermanfaat buat orang yang ngalamin kejadian serupa, tapi tak sama. hyaa, siapa tauu. ya kan?&#8221; Oh, no. Gue mulai direcokin sama pilihan, cenderung ikuti pendapat yang mana? Halah&#8230; Akhirnya gue putuskan untuk sesekali cerita, tapi alasannya bukan seperti yang tadi dituliskan. Bermanfaat buat orang lain mungkin iya, tapi tingkat kemungkinannya random. di luar prediksi.  Yang paling mungkin jadi alesan buat gue adalah kebahagiaan hidup gue sendiri. Ketika gue nyaman dengan tidak menceritakan, ya nggak perlu lah gue cerita. Tapi kalo sebaliknya, ya berarti menceritakan masalah adalah kebutuhan gue. Intinya, gue nggak boleh saklek pada komitmen untuk selalu atau tidak sama sekali menceritakan masalah pribadi. Fleksibel saja lah. Berhubung masih mengatur diri sendiri. Kalau mengatur negara, beda lagi lah ceritanya&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanifahnafiatin.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanifahnafiatin.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanifahnafiatin.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanifahnafiatin.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanifahnafiatin.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanifahnafiatin.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanifahnafiatin.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanifahnafiatin.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanifahnafiatin.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanifahnafiatin.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanifahnafiatin.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanifahnafiatin.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanifahnafiatin.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanifahnafiatin.wordpress.com/669/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifahnafiatin.wordpress.com&amp;blog=7950156&amp;post=669&amp;subd=hanifahnafiatin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/12/04/i-must-love-myself/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		<georss:point>-6.392695 108.287545</georss:point>
		<geo:lat>-6.392695</geo:lat>
		<geo:long>108.287545</geo:long>
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/901265f20025b65a51b12e213dfcb015?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hanifahnafiatin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kaki-Kaki yang Disiksa</title>
		<link>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/12/04/kaki-kaki-yang-disiksa/</link>
		<comments>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/12/04/kaki-kaki-yang-disiksa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2011 13:41:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anakkemarinsore</dc:creator>
				<category><![CDATA[Literatur-Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanifahnafiatin.wordpress.com/?p=656</guid>
		<description><![CDATA[Kaki-kaki yang terus disiksa, tak biasa dimanja dengan posisi duduk di sofa atau selonjoran berbaring kemudian tidur. sudah cukup lama. jari-jarinya tak rasakan sakit akibat bersinggungan dengan ujung sepatu. Pikiran ini, seakan mengerti kemauan kaki-kaki itu. bayangan keramaian orang di suatu tempat selalu membujuk kaki-kaki agar tetap bersabar menghadapi kenyataan. Baby, someday we would do [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifahnafiatin.wordpress.com&amp;blog=7950156&amp;post=656&amp;subd=hanifahnafiatin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kaki-kaki yang terus disiksa,<br />
tak biasa dimanja dengan posisi duduk di sofa<br />
atau selonjoran berbaring kemudian tidur.<br />
sudah cukup lama. jari-jarinya tak rasakan sakit akibat bersinggungan dengan ujung sepatu.</p>
<p>Pikiran ini, seakan mengerti kemauan kaki-kaki itu. bayangan keramaian orang di suatu tempat selalu membujuk kaki-kaki agar tetap bersabar menghadapi kenyataan. Baby, someday we would do it [again]. Travelling is our soul. We can&#8217;t leave it coz we seem will be die-having live without travelling. </p>
<p>Apa yang kita rasakan sekarang adalah fase ketika kita harus berhenti. untuk mengharapkan sesuatu menimpa kita. untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. untuk menunggu sebuah cinta yang menghampiri dan menyapa. berhenti! stop dulu sampai sini..</p>
<p>entah dari mana sifat ini diturunkan, tapi saya sering menyadari kalau hati saya terlalu lunak. ia sering membuat kompromi dengan pikiran bahwa tak semua yang dipersepsikan secara logis adalah benar dan baik untuk hidup saya. hati selalu jadi pendamai. ibaratnya, sikap untuk menjadi manusia melankolis bahkan plegmatis, selalu berawal dari negosiasi yang dilakukan hati dengan pikiran.</p>
<p>Pada akhirnya, pikiran saya sekarang sedang tidak terlalu kacau. Hati berhasil melakukan kompromi dan negosiasinya dengan baik. Dia memang sering seperti diplomat ulung dalam banyak kegelisahan hidup. </p>
<p>Pikiran yang terkontaminasi dengan cairan suntikan dari Hati meneruskannya ke kaki-kaki. Hendak apa kaki-kaki itu kalau sudah begini kondisinya? Tak ada dukungan. Kaki-kaki itu terus tersiksa dengan pemanjaan terhadapnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanifahnafiatin.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanifahnafiatin.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanifahnafiatin.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanifahnafiatin.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanifahnafiatin.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanifahnafiatin.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanifahnafiatin.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanifahnafiatin.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanifahnafiatin.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanifahnafiatin.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanifahnafiatin.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanifahnafiatin.wordpress.com/656/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanifahnafiatin.wordpress.com/656/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanifahnafiatin.wordpress.com/656/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifahnafiatin.wordpress.com&amp;blog=7950156&amp;post=656&amp;subd=hanifahnafiatin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/12/04/kaki-kaki-yang-disiksa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/901265f20025b65a51b12e213dfcb015?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hanifahnafiatin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Semarak Pesta Rakyat Pangaduan Heubeul Sumedang</title>
		<link>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/08/17/semarak-pesta-rakyat-pangaduan-heubeul-sumedang/</link>
		<comments>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/08/17/semarak-pesta-rakyat-pangaduan-heubeul-sumedang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Aug 2011 12:54:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anakkemarinsore</dc:creator>
				<category><![CDATA[Literatur-Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanifahnafiatin.wordpress.com/?p=614</guid>
		<description><![CDATA[Feature oleh: Hanifah Nafiatin Foto oleh: Mashan Khoiriyah Marimar tampak gelisah pada siang itu, Sabtu (11/6). Kalaulah dapat membaca apa yang dirasakannya, barangkali Marimar sudah tak sabar membuktikan kepiawaiannya berlari setelah hampir dua bulan berlatih keras agar dapat memenangkan pertandingan bergengsi baginya tahun ini. Bobot Marimar yang mencapai 45 kg terbilang ideal di antara peserta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifahnafiatin.wordpress.com&amp;blog=7950156&amp;post=614&amp;subd=hanifahnafiatin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Feature oleh: Hanifah Nafiatin<br />
Foto oleh: Mashan Khoiriyah</p>
<p>Marimar tampak gelisah pada siang itu, Sabtu (11/6). Kalaulah dapat membaca apa yang dirasakannya, barangkali Marimar sudah tak sabar membuktikan kepiawaiannya berlari setelah hampir dua bulan berlatih keras agar dapat memenangkan pertandingan bergengsi baginya tahun ini. Bobot Marimar yang mencapai 45 kg terbilang ideal di antara peserta lainnya. Kendati postur tinggi badannya tidak melebihi tinggi peserta lainnya, Marimar terbilang berpenampilan oke. Rambut Marimar yang ini tidak pirang, tapi hitam. Kulit tubuhnya pun berwarna hitam pekat melambangkan kegigihan.<br />
Di matanya, ada bayangan sesosok anak muda energik. Dengan hati tak menentu, anak muda itu menuntun Marimar menuju kandang tunggu para peserta Pacuan Kuda Tanjungsari. Marimar dan sang anak muda merupakan partner utuh dalam pertandingan kali ini. Marimar adalah kuda petarung sementara sang anak muda merupakan seorang joki.<br />
Peluit dibunyikan tanda pertarungan dimulai. Anak muda itu pun kini menaiki punggung Marimar. Selangkah demi selangkah, Marimar bersama sang anak muda akhirnya sampai juga di garis start. Pada race kesepuluh ini, lima peserta bertarung melintasi track sepanjang 600 meter yang mengelilingi lapangan Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.<br />
<a href="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/pertarungan-sengit.jpg"><img src="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/pertarungan-sengit.jpg?w=630" alt="" title="pertarungan sengit"   class="aligncenter size-full wp-image-618" /></a><br />
Penggalan cerita itu merupakan fenomena yang dapat Anda saksikan jika berkunjung ke salah satu helaran tahunan istimewa masyarakat Sumedang lewat pacuan kuda. Menurut Supriyatna, Pegiat Budaya Sumedang, kegiatan tersebut pertama kali digagas oleh Pangeran Aria Suriaatmadja sekitar Tahun 1910. “Pada Tahun 1920’an sudah terbentuk Perhimpunan Belomba Kuda di Sumedang. Organisasi itu ditujukan untuk mewadahi kegiatan pacuan kuda. Kalau ada perhimpunannya, besar kemungkinan bahwa kegiatan pacuan kuda itu sendiri sudah ada sebelum perhimpunan itu didirikan,” ujar Supriyatna yang juga penduduk asli Sumedang kepada majalah REL Plus.<br />
Pangeran Aria Suriaatmadja (1883-1919) yang menjabat Bupati di Kerajaan Sumedang Larang merupakan sosok yang pandai menarik suasana. Kuda sebagai kendaraan kerajaan pada masa itu diupayakan menjadi magnet bagi berkumpulnya rakyat Sumedang. Akhirnya, lapangan luas milik Yayasan Pangeran Sumedang pun dihibahkan menjadi lapangan rakyat Sumedang guna berlangsungnya kegiatan pacuan kuda. “Dulu, orang Sumedang menyebut kegiatan pacuan kuda itu dengan istilah pangaduan heubeul,” kata Supriyatna. “Kalau ada seorang anak menangis, biasanya ibunya langsung menakut-nakuti dengan ucapan begini: tong ceurik, engke teu diajakan nonton pangaduan heubeul (jangan nangis, nanti tidak diajak nonton pacuan kuda). Artinya, kegiatan itu merupakan hal yang sangat berharga dan dinantikan,” kenang Supriyatna sembari tertawa kecil.<br />
<a href="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/para-joki.jpg"><img src="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/para-joki.jpg?w=630" alt="" title="para joki"   class="aligncenter size-full wp-image-619" /></a><br />
Kegiatan pacuan kuda Sumedang berlangsung di dua tempat, yakni di Sumedang Utara dan di Tanjungsari. Jarak tempuh dan luas arena di Sumedang Utara lebih besar dibandingkan di Tanjungsari, yaitu 1000:600 meter. Kendati demikian, kondisi kedua arena tersebut sama-sama memprihatinkan pada masa sekarang. Penonton hanya dapat menyaksikan kuda-kuda beserta para jokinya di garis start dan beberapa meter sebelum mencapai garis finish. Maklum, di tengah-tengah lapangan banyak sekali penghalang, seperti rumah dan pohon sehingga perlintasan tidak dapat sepenuhnya dilihat. “Tapi, justru itu lah yang kadang-kadang bikin seru. Beda dengan di sirkuit-sirkuit megah, penonton pacuan kuda ini tambah penasaran. Kadang-kadang yang terlihat ada di garis terdepan tiba-tiba setelah keluar (karena pandangan penonton terhalang) malah disusul oleh peserta lainnya,” tutur Supriyatna.<br />
<a href="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/kuda-yang-sedang-pundung.jpg"><img src="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/kuda-yang-sedang-pundung.jpg?w=630" alt="" title="kuda yang sedang pundung"   class="aligncenter size-full wp-image-620" /></a><br />
Ada pula ciri khas lain yang menonjol dari pacuan kuda yang satu ini. Setelah pemenang dalam satu putaran lapangan sudah diketahui, para nayaga memberikan selebrasi kepada pemenang dan para penonton. Para nayaga itu terdiri dari para penabuh gong, penabuh kendang, seorang perempuan sinden, dan para pemanggul sound system. Siapa pun pemenangnya, mereka tak pandang bulu untuk menghibur para penonton di arena pertandingan dan para peserta yang kelelahan setelah menempuh perjalanan dalam pertandingan. Hiburan itu bisa menjadi tontonan yang kembali menyemarakkan suasana. Para nayaga itu seakan memberi nafas baru antara babak pertandingan yang satu dengan babak pertandingan lainnya.<br />
<a href="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/para-nayaga.jpg"><img src="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/para-nayaga.jpg?w=630" alt="" title="para nayaga"   class="aligncenter size-full wp-image-617" /></a><br />
Namun, kalah atau menang bukan lah tujuan utama dari acara ini. Lebih dari itu, warisan budaya masyarakat Sumedang merupakan hal utama yang wajib dipelihara dan diperkenalkan kepada generasi masa kini. Oleh karena itu, masyarakat dari berbagai tingkat usia, mulai SD hingga orang dewasa, bahkan orang tua berbondong-bondong mendatangi acara yang diadakan hanya setahun sekali itu.<br />
“Pacuan kuda di Sumedang punya keunikan tersendiri dibanding dengan pacuan kuda yang lain. Kalo di Bandung atau daerah lain, pacuan kuda dilaksanakan secara profesional. Kalo di sini betul-betul membawa budaya. Jadi, dari dulu (pacuan kuda di Sumedang) membawa budaya masyarakat,” ujar Ketua Panitia Kegiatan Pacuan Kuda Pesta Rakyat Tanjungsari 2011 Asep Wahyudin kepada majalah REL Plus. Senada dengan Asep, Supriyatna berujar, “Saya lebih senang jika pacuan kuda Sumedang itu dipandang dari kacamata budaya, bukan seperti lomba ketangkasan.”<br />
<a href="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/gagah1.jpg"><img src="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/gagah1.jpg?w=630" alt="" title="gagah"   class="aligncenter size-full wp-image-616" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanifahnafiatin.wordpress.com/614/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanifahnafiatin.wordpress.com/614/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanifahnafiatin.wordpress.com/614/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanifahnafiatin.wordpress.com/614/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanifahnafiatin.wordpress.com/614/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanifahnafiatin.wordpress.com/614/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanifahnafiatin.wordpress.com/614/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanifahnafiatin.wordpress.com/614/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanifahnafiatin.wordpress.com/614/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanifahnafiatin.wordpress.com/614/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanifahnafiatin.wordpress.com/614/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanifahnafiatin.wordpress.com/614/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanifahnafiatin.wordpress.com/614/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanifahnafiatin.wordpress.com/614/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifahnafiatin.wordpress.com&amp;blog=7950156&amp;post=614&amp;subd=hanifahnafiatin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/08/17/semarak-pesta-rakyat-pangaduan-heubeul-sumedang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/901265f20025b65a51b12e213dfcb015?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hanifahnafiatin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/pertarungan-sengit.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pertarungan sengit</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/para-joki.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">para joki</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/kuda-yang-sedang-pundung.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kuda yang sedang pundung</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/para-nayaga.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">para nayaga</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/gagah1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gagah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menilik Riwayat Menara Loji dan Jembatan Cincin</title>
		<link>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/08/17/menilik-riwayat-menara-loji-dan-jembatan-cincin/</link>
		<comments>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/08/17/menilik-riwayat-menara-loji-dan-jembatan-cincin/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Aug 2011 12:47:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anakkemarinsore</dc:creator>
				<category><![CDATA[Literatur-Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanifahnafiatin.wordpress.com/?p=609</guid>
		<description><![CDATA[Feature oleh: Hanifah Nafiatin Foto oleh: Mashan Khoiriyah Cultuur Ondernemingen van Maatschapij Baud merupakan perusahaan perkebunan karet ternama milik Baron Braud, pria berkebangsaan Jerman bersama perusahaan swasta milik Belanda. Pada tahun 1841, perkebunan ini didirikan-terbentang luas sekitar 962 hektar dari tanah Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN-dulu STPDN) hingga Gunung Manglayang, Sumedang. Pesatnya pertumbuhan ekonomi hasil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifahnafiatin.wordpress.com&amp;blog=7950156&amp;post=609&amp;subd=hanifahnafiatin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Feature oleh: Hanifah Nafiatin<br />
Foto oleh: Mashan Khoiriyah</p>
<p>Cultuur Ondernemingen van Maatschapij Baud merupakan perusahaan perkebunan karet ternama milik Baron Braud, pria berkebangsaan Jerman bersama perusahaan swasta milik Belanda. Pada tahun 1841, perkebunan ini didirikan-terbentang luas sekitar 962 hektar dari tanah Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN-dulu STPDN) hingga Gunung Manglayang, Sumedang.<br />
Pesatnya pertumbuhan ekonomi hasil perkebunan itu ditunjang oleh sarana-sarana yang hingga kini masih dapat disaksikan di bumi Jatinangor. Salah satu sarana yang dimaksud adalah jembatan di daerah Cikuda, Sumedang yang dikenal oleh masyarakat sekitar dengan nama Jembatan Cincin. Jembatan Cincin pertama kali dibangun oleh perusahaan kereta api Belanda, Staat Spoorwagen Verenidge Spoorwegbedrijf pada Tahun 1918. Jembatan ini digunakan sebagai sarana lalu lintas bagi pekerja perkebunan untuk membawa hasil perkebunan. Dapat dikatakan, jembatan ini merupakan roda penggerak perkebunan karet terbesar di Jawa Barat. Selain itu, Jembatan Cincin juga berguna sebagai jembatan rel kereta yang menghubungkan jalur dari arah Tanjungsari ke Rancaekek.<br />
Setiap harinya, suasana di sekitar jembatan itu selalu hiruk-pikuk sejak pagi buta. Deru mesin kereta yang bergesekan dengan relnya seringkali menyiratkan makna mendalam, yakni pedihnya sistem kerja rodi yang dilakukan kolonial Belanda kepada penduduk pribumi di tanah Kerajaan Sumedang Larang.<br />
<a href="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/sisi-lain-cincin.jpg"><img src="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/sisi-lain-cincin.jpg?w=300&#038;h=233" alt="" title="sisi lain cincin" width="300" height="233" class="aligncenter size-medium wp-image-610" /></a><br />
Sementara itu, di satu sudut lain tak jauh dari lokasi Jembatan Cincin berada, sebuah menara pemantau waktu dibangun sekitar Tahun 1980. Menara tersebut ditujukan untuk memantau kegiataan para pekerja perkebunan. Setiap harinya, lonceng yang tersimpan di dalam menara itu dibunyiksn sebanyak tiga kali, yakni pukul 5 pagi (penanda untuk mulai menyadap karet), pukul 10 pagi (penanda untuk mengumpulkan mangkok-mangkok getah karet), dan pukul 2 siang (penanda berakhirnya kegiatan produksi karet).<br />
Bangunan ini kental dengan sentuhan gaya neo-gothic negeri Belanda. Atap menara ini berbentuk segi delapan dan pada puncaknya terdapat kerucut sebagai dasar bagi tegaknya garpu tiga jari seolah berguna sebagai pemancar. Berbeda dengan menara jam pada umumnya, pada menara yang dijuluki dengan sebutan Menara Loji ini sebetulnya tidak terpasang jam. Sebagai gantinya, lonceng merupakan penunjuk waktu yang dimaksud. Namun, sejak Tahun 1980’an lonceng itu dicuri dan hingga kini tidak pernah diketahui keberadaannya.<br />
<a href="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/amazing-loji.jpg"><img src="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/amazing-loji.jpg?w=217&#038;h=300" alt="" title="amazing loji" width="217" height="300" class="aligncenter size-medium wp-image-611" /></a><br />
Lain dulu, lain sekarang. Seiring bergantinya abad, kedua objek bernilai historis tersebut kian renta. Jembatan Cincin, misalnya. Konstruksi jalanannya terlihat tidak rata. Ia hanya berupa batu-batu yang digunakan untuk meratakan lintasan rel yang terpasang di sana. Padahal, jika menengok peran jembatan tersebut pada masa kini, kondisi jalanan itu sangat perlu diperbaiki. Jembatan Cincin menjadi akses alternatif bagi warga Kecamatan Cikeruh menuju Kecamatan Hegarmanah atau sebaliknya. Para mahasiswa yang berangkat atau pulang kuliah pun banyak yang menggunakan sarana ini. Sayang, kondisi objek peninggalan yang sekarang berada di kawasan pendidikan Jatinangor ini seperti tersisihkan dari perhatian pihak-pihak yang berkaitan.<br />
Sementara itu, sejak kawasan perkebunan karet disulap menjadi perguruan tinggi, perawatan Menara Loji diambil alih oleh Bagian Rumah Tangga Universitas Winaya Mukti (Unwim). Jasad Baron Braud, pemilik perkebunan karet itu pun disemayamkan tak jauh dari letak Menara Loji berada. Adapun saat ini, Menara Loji berada di bawah tanggung jawab Institut Teknologi Bandung (ITB) seiring beralihnya kepemilikan tanah dari Unwim kepada ITB pada akhir tahun lalu. Ya, nasib Menara Loji tampak sedikit beruntung dibandingkan nasib yang menimpa Jembatan Cincin saat ini.<br />
Untuk dapat menemukan Menara Loji, Anda bisa terlebih dahulu berhenti di persimpangan jalan dekat dengan Pangkalan Damri. Setelah itu, lanjutkan perjalanan ke arah Utara jalan. Sementara untuk dapat melihat Jembatan Cincin, Anda dapat memandangnya dari depan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran atau Anda bisa melewati jalan Cikuda untuk dapat menapakkan kaki di atas jembatan ini secara langsung. Di situ lah Anda dapat temukan dua peninggalan bersejarah zaman kolonialisme Belanda di Bumi Priyangan pada Abad XIX silam.<br />
<a href="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/bukan-tandingan.jpg"><img src="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/bukan-tandingan.jpg?w=300&#038;h=235" alt="" title="bukan tandingan" width="300" height="235" class="aligncenter size-medium wp-image-612" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanifahnafiatin.wordpress.com/609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanifahnafiatin.wordpress.com/609/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanifahnafiatin.wordpress.com/609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanifahnafiatin.wordpress.com/609/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanifahnafiatin.wordpress.com/609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanifahnafiatin.wordpress.com/609/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanifahnafiatin.wordpress.com/609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanifahnafiatin.wordpress.com/609/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanifahnafiatin.wordpress.com/609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanifahnafiatin.wordpress.com/609/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanifahnafiatin.wordpress.com/609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanifahnafiatin.wordpress.com/609/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanifahnafiatin.wordpress.com/609/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanifahnafiatin.wordpress.com/609/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifahnafiatin.wordpress.com&amp;blog=7950156&amp;post=609&amp;subd=hanifahnafiatin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/08/17/menilik-riwayat-menara-loji-dan-jembatan-cincin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/901265f20025b65a51b12e213dfcb015?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hanifahnafiatin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/sisi-lain-cincin.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">sisi lain cincin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/amazing-loji.jpg?w=217" medium="image">
			<media:title type="html">amazing loji</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/bukan-tandingan.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">bukan tandingan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rumah Terakhir Sang Dewi dari Tanah Rencong</title>
		<link>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/08/17/rumah-terakhir-sang-dewi-dari-tanah-rencong/</link>
		<comments>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/08/17/rumah-terakhir-sang-dewi-dari-tanah-rencong/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Aug 2011 12:42:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anakkemarinsore</dc:creator>
				<category><![CDATA[Literatur-Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanifahnafiatin.wordpress.com/?p=604</guid>
		<description><![CDATA[Feature oleh: Hanifah Nafiatin Foto oleh: Mashan Khoiriyah “Lebih baik Aku mati di rimba ini daripada menyerah kepada kafir (pasukan Belanda),” tukas Tjut Njak Dhien yang sedang bergerilya kepada panglima pasukan Pang Laot saat diminta untuk menyerah kepada Belanda. Terang saja, nyali perempuan yang dijuluki “singa betina” dari Pantai Barat Aceh itu tak pernah sedikitpun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifahnafiatin.wordpress.com&amp;blog=7950156&amp;post=604&amp;subd=hanifahnafiatin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Feature oleh: Hanifah Nafiatin<br />
Foto oleh: Mashan Khoiriyah</p>
<p>“Lebih baik Aku mati di rimba ini daripada menyerah kepada kafir (pasukan Belanda),” tukas Tjut Njak Dhien yang sedang bergerilya kepada panglima pasukan Pang Laot saat diminta untuk menyerah kepada Belanda. Terang saja, nyali perempuan yang dijuluki “singa betina” dari Pantai Barat Aceh itu tak pernah sedikitpun ciut dalam menghadapi pasukan Belanda. Dus, pada 11 Desember 1906 ia diasingkan ke pulau Jawa, tepatnya di Sumedang, Jawa Barat atas komando Gubernur Jenderal J.B.V Heutz.<br />
	Namun, upaya pengasingan Tjut Njak Dhien itu tak pernah benar-benar berhasil membendung semangat perjuangan isteri Teuku Umar itu dalam melawan kolonial. Dalam kondisi tua renta dan panca indera terbatas, Tjut Njak Dhien yang juga hafal 30 juz ayat suci sempat mengajarkan ibu-ibu dan anak-anak sekitar lingkungan tempat pengasingannya untuk baca dan tulis huruf Arab.<br />
	Aktivitas itu terus dilakukannya hingga ia tutup usia pada 6 November 1908. Kendati baru hampir tiga tahun di Sumedang, perempuan kelahiran Peukan Bada Tahun 1848 itu meninggalkan banyak hal positif bagi masyarakat Sumedang. Atas dasar itu, pantas jika jasadnya dimakamkan berdampingan dengan kompleks pemakaman bangsawan-bangsawan Bupati Sumedang. Lokasinya berada di sebuah gunung bernama Gunung Puyuh yang sebetulnya hanya tampak seperti bukit karena puncaknya relatif masih rendah. Letaknya tak terlalu jauh dari Alun-Alun Kota Sumedang.<br />
<a href="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/dscf0707.jpg"><img src="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/dscf0707.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="DSCF0707" width="300" height="225" class="aligncenter size-medium wp-image-605" /></a></p>
<p>Akses menuju Gunung Puyuh dapat ditempuh dengan perjalanan menggunakan bus (jika datang dengan rombongan) atau kendaraan pribadi dan bisa juga menggunakan jasa penarik becak di pinggir jalan arteri menuju Gunung Puyuh. Sebetulnya, ada juga pengunjung yang menempuh perjalanan dengan hanya berjalan kaki. Selain arah menuju lokasi yang mudah ditelusuri, jarak perjalanan pun tidak lebih dari dua kilometer sehingga tidak membutuhkan waktu yang terlampau lama.<br />
	Untuk sampai ke pemakaman Tjut Njak Dhien, pengunjung akan melewati dua gerbang terlebih dahulu. Gerbang bawah merupakan gerbang pertama sebagai pintu masuk menuju pemakaman bangsawan-bangsawan Sumedang. Sementara itu, dengan menyusuri susunan anak tangga yang arahnya lurus sejak memasuki area pemakaman, pengunjung dapat menemukan gerbang kedua sebagai gerbang dari rumah terakhir sang Dewi dari Tanah Rencong.<br />
	Adalah Nana Sukmana (54), juru kunci makam Tjut Njak Dhien selalu ada di sekitar pemakaman itu. Ia bersama seorang rekannya biasa menjamu pengunjung yang datang ke makam dengan menjawab setiap pertanyaan yang meluncur dari mulut pengunjung. Jadi, pengunjung tidak perlu khawatir untuk bisa mengerti sejarah dimakamkannya sang Dewi itu di Gunung Puyuh. Nana yang merupakan generasi ke lima keturunan para juru kunci yang menjaga makam Tjut Njak Dhien mengatakan, jumlah pengunjung ke lokasi itu mencapai kisaran angka 500 ribu orang setiap bulan. Akhir pekan merupakan waktu-waktu utama para pengunjung yang datang ke tempat itu. “Orang Aceh sendiri banyak yang antusias datang ke makam ini,” ujarnya.<br />
<a href="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/dscf0678.jpg"><img src="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/dscf0678.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="DSCF0678" width="300" height="225" class="aligncenter size-medium wp-image-606" /></a><br />
Makam dengan luas 225&#215;125 cm itu tak pernah sepi dari taburan bunga yang ditebarkan para pengunjung. Di kusen-kusennya pun terselip buku-buku do’a dan kitab suci Al-Qur’an, berguna bagi mereka yang ingin mendoakan atau berdoa di sekitar makam. Di sekitar pemakaman, terdapat makam-makam keturunan keluarga K.H. Sanusi, ulama besar di Sumedang yang pernah menjadi tuan rumah bagi Tjut Njak Dhien semasa hidup di bumi pengasingan.<br />
Saat ditanya mengenai ada atau tidaknya kejadian berbau mistis di sekitar makam, Nana menjawab, “Tidak pernah ada kejadian aneh-aneh. Kalau ada yang bercerita sebaliknya, Saya katakan itu tidak benar karena selama Saya menjaga tempat ini, tidak pernah ada kejadian-kejadian aneh, seperti yang didengar itu.” Akan tetapi, mengenai makam yang sering dijadikan tempat mencari berkah oleh para pengunjung, Nana mengaku tidak bisa memaksakan niat pengunjung untuk berziarah ke makam tersebut. Kepada seluruh pengunjung, ia tetap mengingatkan bahwa tidak ada berkah apa-apa dari berdoa di depan makam sementara kepada sang khalik tidak.<br />
<a href="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/dscf0715.jpg"><img src="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/dscf0715.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="DSCF0715" width="300" height="225" class="aligncenter size-medium wp-image-607" /></a><br />
Kini, Nana berharap agar lokasi pemakaman tersebut terus mengalami perbaikan dari segi infrastruktur. Beberapa waktu ke depan, pengelola pemakaman berencana untuk membuat sebuah prasasti besar guna melengkapi informasi sejarah yang perlu diketahui oleh para pengunjung yang datang ke lokasi tersebut. Hmm, mudah-mudahan hal tersebut dapat terwujud sehingga isi dari sebuah larik dalam sajak W.S Rendra berjudul “Balada Tjut Njak Dhien” akan selalu dikenang, setidaknya tidak hanya dalam ingatan, tetapi terwujud dalam semangat perjuangan dengan aplikasi masa kini dan lintasjender. </p>
<p>“Tjut Njak Dhien adalah harimau<br />
Yang tabah dan jelita<br />
Bersembunyi antara rumput ilalang<br />
Untuk menumpas kaphe dan penjajah.” (Rendra dalam Kisah Kepahlawanan Tjut Njak Dhien Melawan Kolonial Belanda, hal. 33).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanifahnafiatin.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanifahnafiatin.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanifahnafiatin.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanifahnafiatin.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanifahnafiatin.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanifahnafiatin.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanifahnafiatin.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanifahnafiatin.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanifahnafiatin.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanifahnafiatin.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanifahnafiatin.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanifahnafiatin.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanifahnafiatin.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanifahnafiatin.wordpress.com/604/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifahnafiatin.wordpress.com&amp;blog=7950156&amp;post=604&amp;subd=hanifahnafiatin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/08/17/rumah-terakhir-sang-dewi-dari-tanah-rencong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/901265f20025b65a51b12e213dfcb015?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hanifahnafiatin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/dscf0707.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0707</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/dscf0678.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0678</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/dscf0715.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0715</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cadasnya Melintasi Cadas Pangeran</title>
		<link>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/08/17/cadasnya-melintasi-cadas-pangeran/</link>
		<comments>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/08/17/cadasnya-melintasi-cadas-pangeran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Aug 2011 12:35:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anakkemarinsore</dc:creator>
				<category><![CDATA[Literatur-Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanifahnafiatin.wordpress.com/?p=599</guid>
		<description><![CDATA[Feature oleh: Hanifah Nafiatin Foto oleh: Mashan Khoiriyah Pada satu persimpangan di perjalanan dari Barat menuju Timur, tampak sepasang tokoh dalam wujud patung sedang bersalaman. Warnanya memang sudah kian pudar, tetapi unsur historikalnya tak bisa disembunyikan. Di belakang dua tokoh patung tersebut menyembul prasasti bertuliskan “Simbol Wisata Cadas Pangeran”. Sebetulnya tulisan itu pun tidak begitu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifahnafiatin.wordpress.com&amp;blog=7950156&amp;post=599&amp;subd=hanifahnafiatin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Feature oleh: Hanifah Nafiatin<br />
Foto oleh: Mashan Khoiriyah</p>
<p>Pada satu persimpangan di perjalanan dari Barat menuju Timur, tampak sepasang tokoh dalam wujud patung sedang bersalaman. Warnanya memang sudah kian pudar, tetapi unsur historikalnya tak bisa disembunyikan. Di belakang dua tokoh patung tersebut menyembul prasasti bertuliskan “Simbol Wisata Cadas Pangeran”. Sebetulnya tulisan itu pun tidak begitu jelas terbaca jika tak benar-benar jeli memandangnya.<br />
	Kini, apakah Anda merasa asing atau justru familiar mendengar tempat bernama Cadas Pangeran? Ya, ia merupakan salah satu peninggalan sejarah ketika Belanda menjajah nusantara, tepatnya di Kerajaan Sumedang Larang. Konon, pembangunan Cadas Pangeran merupakan proyek Daendels (pemimpin pasukan Belanda) yang hendak membuka Jalan Pos Anyer-Panarukan. Konstruksi pembangunan jalan ini terbilang sulit karena terbuat dari batu-batuan keras dan besar yang harus dipecahkan sedemikian rupa sehingga dapat dilalui oleh alat transportasi yang melintas.<br />
<a href="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/dscf0811.jpg"><img src="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/dscf0811.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="DSCF0811" width="300" height="225" class="aligncenter size-medium wp-image-600" /></a><br />
Kendati jalan yang menghubungkan Anyer-Panarukan itu tidak pernah terwujud, proyek besar yang mengorbankan lebih dari lima ribu jiwa pekerjanya itu meninggalkan bangunan sejarah berupa jalanan yang kini menjadi jalur utama, baik dari Bandung-Jakarta (lewat Subang), maupun dari Bandung-Cirebon yang selanjutnya bisa diteruskan ke berbagai daerah di Provinsi Jawa Tengah.<br />
Beberapa musafir yang melewati jalur ini sering merasakan sensasi tersendiri. Hal itu disebabkan oleh kondisi geografis jalur Cadas Pangeran yang menantang, kadang memacu adrenalin. Jalanannya cenderung berliku-liku sepanjang 4,83 km dan berada di tepi bukit sementara di sampingnya terdapat jurang menganga lebar. Selain itu, bencana longsor seringkali menghantui, baik bagi pengendara yang melintas di jalur tersebut, maupun bagi penduduk yang tinggal di sekitar lokasi. Sejatinya, Cadas Pangeran memiliki dua jalur, yakni jalur bawah sebagai jalur utama yang dapat dilewati oleh kendaraan dengan dua arah dan jalur atas sebagai jalur alternatif dan hanya dapat dilewati oleh pengendara yang datang dari arah Barat menuju Timur, tidak berlaku sebaliknya. Adapun bagi para pengendara yang melintasi lokasi ini pada malam hari, sebaiknya mereka lebih berhati-hati karena fasilitas penerangan jalan pun tidak begitu baik.</p>
<p>Akan tetapi, di balik peringatan agar lebih waspada dalam melintasi jalur ini, pada dasarnya Cadas Pangeran menyuguhkan panorama menakjubkan yang dapat dinikmati setiap pasang bola mata yang menyaksikan. Di seberang jalan terdapat bukit yang ditumbuhi pepohonan tinggi, menyejukkan mata karena warna hijau yang berefleksi. Dengan demikian, kewaspadaan para pengendara yang melintas dapat terbayar dengan panorama indah tersebut.</p>
<p>Kontroversi: Mitos atau Sejarah<br />
	Selama bertahun-tahun, cerita di balik pembangunan patung di kawasan Cadas Pangeran itu diyakini sebagai berikut. Dua tokoh patung yang terdapat di persimpangan jalan Cadas Pangeran adalah Daendels yang memakai tangan kanannya untuk bersalaman dengan Pangeran Kornel yang ternyata memakai tangan kirinya untuk bersalaman sementara di tangan kanannya tampak pedang siap dihunuskan. Beberapa sumber menyebutkan, Pangeran Kornel menentang rencana Daendels yang menyengsarakan rakyatnya dengan kerja rodi demi membangun mimpi besar pasukan Belanda untuk membuat jalan dari Anyer-Panarukan. Keberanian yang dimiliki Pangeran Kornel akhirnya meluluhkan niat Daendels untuk meneruskan mimpi tersebut. Sembari kagum dengan keberanian Pangeran Kornel, konon Daendels mengajak Pangeran untuk bersalaman dengannya. Akan tetapi, kekesalan Pangeran Kornel terhadap Daendels tetap bersemayam sehingga ia enggan menggunakan tangan kanannya untuk bersalaman, melainkan tangan kirinya yang akhirnya ia gunakan. Sejarah mengenai Cadas Pangeran pun pada awalnya hanya sampai di sini.<br />
<a href="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/dscf0857.jpg"><img src="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/dscf0857.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" title="DSCF0857" width="225" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-601" /></a><br />
	Namun, sejak 2008 silam seorang peneliti dari Universitas Indonesia (UI) mengemukakan bantahannya terhadap cerita yang ia anggap keliru. Pada versi yang satu ini dikatakan, terdapat sebuah kemustahilan bagi seorang Bupati Sumedang (Pangeran Kornel) yang baru berusia sekitar 20 tahun menentang Daendels yang posisinya pada waktu itu adalah sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang menguasai Hindia Timur. Selain itu, beberapa arsip menyebutkan bahwa tidak ada satu pun bupati dari daerah yang dilewati jalur pos itu yang menentang proyek Jalan Pos. Semuanya mendukung, bahkan meminta untuk diteruskan. Demikian beberapa keganjilan yang ditemukan oleh peneliti dari UI.<br />
	Sementara itu, sebagian masyarakat lainnya mengaitkan kesalahpahaman sejarah Cadas Pangeran dengan beberapa kejadian beraroma mistis yang konon terjadi. Pada Tahun 1987, ketika puluhan orang akan memasang patung itu hingga berdiri, mereka mengalami “kesurupan”. Asumsi yang berkembang di telinga masyarakat adalah, terjadi kekeliruan sejarah sehingga mereka harus terlebih dahulu berziarah ke makam Pangeran Kornel di Kompleks Pemakaman Pasarean Gede. Konon katanya, setelah para pekerja berziarah ke makam tersebut, mereka sembuh dari “kesurupan” dan akhirnya kedua patung itu dapat berdiri sebagaimana yang dapat dilihat pada masa kini.<br />
<a href="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/dscf0806.jpg"><img src="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/dscf0806.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" title="DSCF0806" width="225" height="300" class="alignright size-medium wp-image-602" /></a><br />
Kebenaran sejarah memang seringkali tidak mutlak pada satu sudut pandang. Dimensi lain kadang tak terlihat oleh satu penerjemah sejarah dan dimensi lainnya lagi kadang tak terlihat oleh penerjemah sejarah yang lain. Itu lah persepsi&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanifahnafiatin.wordpress.com/599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanifahnafiatin.wordpress.com/599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanifahnafiatin.wordpress.com/599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanifahnafiatin.wordpress.com/599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanifahnafiatin.wordpress.com/599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanifahnafiatin.wordpress.com/599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanifahnafiatin.wordpress.com/599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanifahnafiatin.wordpress.com/599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanifahnafiatin.wordpress.com/599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanifahnafiatin.wordpress.com/599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanifahnafiatin.wordpress.com/599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanifahnafiatin.wordpress.com/599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanifahnafiatin.wordpress.com/599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanifahnafiatin.wordpress.com/599/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifahnafiatin.wordpress.com&amp;blog=7950156&amp;post=599&amp;subd=hanifahnafiatin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/08/17/cadasnya-melintasi-cadas-pangeran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/901265f20025b65a51b12e213dfcb015?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hanifahnafiatin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/dscf0811.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0811</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/dscf0857.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0857</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/dscf0806.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0806</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tahu&amp;Ubi Cilembu: Jagoan Kudapan Khas Sumedang</title>
		<link>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/08/17/tahuubi-cilembu-jagoan-kudapan-khas-sumedang/</link>
		<comments>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/08/17/tahuubi-cilembu-jagoan-kudapan-khas-sumedang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Aug 2011 12:28:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anakkemarinsore</dc:creator>
				<category><![CDATA[Literatur-Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanifahnafiatin.wordpress.com/?p=593</guid>
		<description><![CDATA[Feature oleh: Hanifah Nafiatin Foto oleh: Mashan Khoiriyah Berdekatan dengan Kota Bandung tak lantas menjadikan kuliner di Kota Sumedang serupa dengan yang dimiliki Kota Kembang itu. Setidaknya, Sumedang memiliki dua jagoan kulinernya yang patut dibanggakan. Yap, tahu Sumedang dan ubi Cilembu. Yang satu memiliki bentuk persegi sekira ukuran 5x5x1 cm sementara yang lain merupakan jenis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifahnafiatin.wordpress.com&amp;blog=7950156&amp;post=593&amp;subd=hanifahnafiatin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Feature oleh: Hanifah Nafiatin<br />
Foto oleh: Mashan Khoiriyah</p>
<p>Berdekatan dengan Kota Bandung tak lantas menjadikan kuliner di Kota Sumedang serupa dengan yang dimiliki Kota Kembang itu. Setidaknya, Sumedang memiliki dua jagoan kulinernya yang patut dibanggakan. Yap, tahu Sumedang dan ubi Cilembu. Yang satu memiliki bentuk persegi sekira ukuran 5x5x1 cm sementara yang lain merupakan jenis umbi-umbian, namun tetap memiliki karakternya sendiri dibandingkan ubi-ubi yang lain. Mari kita kenali satu per satu dua kudapan khas Sumedang ini.<br />
Pertama, tahu Sumedang. Kuliner yang satu ini sudah tidak diragukan lagi asal-muasalnya. Sumedang yang dijuluki Kota Tahu pastilah merupakan daerah penghasil tahu terpopuler di Indonesia. Tapi, masih ingatkah kita dengan sejarah pembuatan tahu di Sumedang? Beberapa sumber menyebutkan, asal-usul tahu di Kota Sumedang berawal dari gagasan seorang Tionghoa bernama Ong Kino yang tinggal di Sumedang sebelum Tahun 1917. Ong Kino sendiri berprofesi sebagai penjual keripik aci dari singkong di pinggiran jalan. Sementara itu, sumber lain menambahkan, pertama kali Ong Kino membuat tahu terjadi pada Tahun 1911. Pada waktu itu, tahu yang ia buat baru sekedar konsumsi untuk keluarganya. Namun, berdasarkan saran dari keluarga, teman-teman, bahkan konon Pangeran Aria Suriaatmadja yang sempat mencicipi tahu buatan Ong Kino ini, akhirnya kudapan berbahan dasar kedelai itu menjadi sebuah komoditas utama masyarakat sekitar sejak Tahun 1917.<br />
Penjualan tahu pun tidak dilakukan oleh satu produsen saja. Di berbagai warung kecil, maupun besar yang ada di sepanjang jalan Kota Sumedang, tahu bukan merupakan barang langka untuk dapat dijumpai. Bahkan, sejak keluar dari gerbang Tol Cileunyi pun sudah banyak penjaja tahu khas Sumedang ini. </p>
<p>Apa yang membuatnya begitu khas? Setelah majalah REL Plus menanyakan hal tersebut kepada salah seorang karyawan di toko tahu Bungkeng (keturunan pertama Ong Kino), ia menjelaskan bahwa air yang ada di Sumedang tidak dapat dijumpai di daerah lain. Unsur tersebut merupakan resep istimewa dari tahu Sumedang. “Kalau dilihat dari bahan dasarnya, yaitu kedelai, beberapa produsen tahu, seperti kami (produsen tahu Bungkeng) menggunakan kedelai dengan kualitas impor. Mungkin itu yang membedakan rasa setiap tahu yang dibuat oleh produsen yang berbeda,” tambahnya. Kualitas bahan dasar tersebut pada akhirnya memengaruhi perbedaan harga per biji tahu. Ada yang membanderol harga Rp400,-/biji, Rp250,-/biji, bahkan seringkali ada tahu yang dijual Rp100,-/biji. Banderol harga tersebut naik dari tahun ke tahun bergantung pada harga komoditas bahan-bahan dasar yang diperlukan untuk membuat tahu.</p>
<p>Memang, berbeda dengan tahu yang proses produksinya di luar Sumedang, tahu Sumedang relatif lebih empuk, tidak keropos di bagian tengah, namun tetap garing dan gurih di lidah. Wah, pantas saja Sumedang sangat bangga dengan predikat Kota Tahu-nya itu. Sampai-sampai di salah satu persimpangan jalan di Kota Sumedang terdapat tugu berbentuk tahu dan keranjang tahu sebagai simbol kebanggaan masyarakat setempat.<br />
<a href="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/dscf0770.jpg"><img src="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/dscf0770.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" title="DSCF0770" width="225" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-594" /></a></p>
<p><a href="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/dscf0775.jpg"><img src="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/dscf0775.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="DSCF0775" width="300" height="225" class="alignright size-medium wp-image-596" /></a></p>
<p>Kedua, ubi Cilembu. Penganan yang satu ini banyak dijumpai di pinggir jalan sepanjang jalan Sumedang, termasuk di dekat persimpangan Cadas Pangeran. Jenis ubi yang satu ini menjadi produk pertanian unggulan bagi Pemerintah Kabupaten Sumedang. Lumbung penghasil ubi Cilembu terbesar di Sumedang tentu saja berasal dari Desa Cilembu, Cadas Pangeran, Sumedang.<br />
Ciri-ciri yang terdapat pada ubi Cilembu dan tidak terdapat pada jenis ubi lainnya adalah kulitnya yang berwarna kuning gading, berurat, dan panjang. Sementara getah ubi Cilembu akan meleleh, seperti madu jika dimasak dengan cara dipanggang. Tak hanya menggiurkan dari penampilan luar, tetapi soal rasa &#8211; jenis ubi yang satu ini sangat manis dan pulen. Sensasi rasa manis itu akan bertambah bila Anda membakarnya di dalam oven. </p>
<p>Rasa manis yang tersimpan di dalam ubi Cilembu dapat menjadi asupan energi sehingga ubi ini cocok apabila dijadikan hidangan saat sahur dan berbuka puasa pada bulan Ramadhan. Selain dibakar dan dimasukkan ke dalam oven, beberapa pedagang menjajakan ubi Cilembu yang sudah diolah menjadi keripik, tape, dodol, keremes, selai, saus, tepung, aneka kue, mie, dan sirup.<br />
Di samping itu, budidaya ubi Cilembu terus dikembangkan oleh Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA), sekolah peninggalan kolonialisme Belanda di Tanjungsari, Sumedang. Hadi, pengajar di sekolah tersebut mengatakan, “Ubi Cilembu sudah lama dijadikan komoditas ekspor bagi warga Sumedang, khususnya Tanjungsari dan Cilembu. Pasarnya antara lain, sudah sampai ke Singapura, Malaysia, Korea, dan Jepang.” Kendati jumlah ekspor ubi Cilembu ke berbagai negara terus meningkat, tingkat penjualan ubi Cilembu di lingkungan Sumedang sendiri mengalami penurunan. “Beberapa pedagang di luar daerah Sumedang mengklaim bahwa yang mereka jual adalah ubi Cilembu padahal itu bukan ubi Cilembu yang asli,” tutur Hadi. Hal ini tentu saja tidak hanya berdampak pada penurunan omset penjualan ubi Cilembu di Sumedang, tetapi juga menurunkan citra rasa ubi Cilembu yang sebenarnya. “Tidak ada yang lebih manis dari Ubi Cilembu yang asli,” pungkasnya.<br />
<a href="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/dscf0869.jpg"><img src="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/dscf0869.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="DSCF0869" width="300" height="225" class="aligncenter size-medium wp-image-597" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanifahnafiatin.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanifahnafiatin.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanifahnafiatin.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanifahnafiatin.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanifahnafiatin.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanifahnafiatin.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanifahnafiatin.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanifahnafiatin.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanifahnafiatin.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanifahnafiatin.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanifahnafiatin.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanifahnafiatin.wordpress.com/593/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanifahnafiatin.wordpress.com/593/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanifahnafiatin.wordpress.com/593/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifahnafiatin.wordpress.com&amp;blog=7950156&amp;post=593&amp;subd=hanifahnafiatin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/08/17/tahuubi-cilembu-jagoan-kudapan-khas-sumedang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/901265f20025b65a51b12e213dfcb015?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hanifahnafiatin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/dscf0770.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0770</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/dscf0775.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0775</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hanifahnafiatin.files.wordpress.com/2011/08/dscf0869.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">DSCF0869</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>here it is&#8230;</title>
		<link>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/07/24/here-it-is/</link>
		<comments>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/07/24/here-it-is/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jul 2011 09:48:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anakkemarinsore</dc:creator>
				<category><![CDATA[Literatur-Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanifahnafiatin.wordpress.com/?p=590</guid>
		<description><![CDATA[http://senimedia.org/web/<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifahnafiatin.wordpress.com&amp;blog=7950156&amp;post=590&amp;subd=hanifahnafiatin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>http://senimedia.org/web/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanifahnafiatin.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanifahnafiatin.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanifahnafiatin.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanifahnafiatin.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hanifahnafiatin.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hanifahnafiatin.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hanifahnafiatin.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hanifahnafiatin.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanifahnafiatin.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanifahnafiatin.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanifahnafiatin.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanifahnafiatin.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanifahnafiatin.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanifahnafiatin.wordpress.com/590/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifahnafiatin.wordpress.com&amp;blog=7950156&amp;post=590&amp;subd=hanifahnafiatin&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanifahnafiatin.wordpress.com/2011/07/24/here-it-is/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/901265f20025b65a51b12e213dfcb015?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hanifahnafiatin</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
