Uniknya Berfoto dengan Kamera Lubang Jarum

Hobi:

Ada yang pernah mendengar tentang kamera tanpa lensa? Istilah itu sudah beberapa tahun belakangan ini muncul kembali menjadi sebuah tren di kalangan pecinta fotografi. Kamera yang digunakan untuk memotret itu memang bebas lensa. Sebagai pengganti fungsi lensa, bagian tengah kamera buatan itu harus dilubangi dengan jarum. That’s why kamera tanpa lensa sering dikenal juga dengan istilah kamera lubang jarum.

Namun, sebetulnya ini bukan barang baru. Keberadaannya sudah diperkenalkan sejak abad IV silam dan pada 1839, jenis kamera yang cenderung unik ini mulai diperkenalkan di Prancis. Bagaimana di Indonesia? Ray Bachtiar Drajat (fotografer) adalah orang pertama yang mencoba menyebarluaskan wawasan tentang kamera tanpa lensa lewat sebuah workshop yang diadakan pada 17 Agustus 2002 di Lembang, Bandung.

Berawal dari workshop itulah, sekawanan pecinta fotografi di Bandung menggagas berdirinya Komunitas Lubang Jarum di Indonesia (KLJI)-Bandung. Salah seorang yang aktif dan menjadi koordinatornya adalah Deni Sugandi. Lelaki muda yang sejak duduk di bangku perkuliahan sudah menggilai dunia fotografi itu menceritakan perjalanan KLJI-Bandung hingga saat ini.

“Karena waktu itu [tahun 2002-red] KLJI-Bandung berbentuk komunitas, jadi anggotanya datang dan pergi. Ada 17 orang waktu itu yang belajar perakitan dan teknik kamera lubang jarum. Lama-kelamaan agak vacuum, tapi ada Saya, Julius Tomasowa, dan Amy yang masih terus menyebarkan lewat workshop, blog, dan kini ke jejaring sosial dan media,” papar Deni Sugandi, Koordinator KLJI-Bandung di Institut Manajemen Telkom, Bandung, Sabtu, (11/12/10) .

Kini, KLJI-Bandung bergandengan tangan dengan kamerapinjaman.com, sebuah komunitas fotografi di Bandung yang menyepakati bahwa ideologi mereka sejalan dengan KLJI. Karena itu lah, mereka bernaung di bawah payung Pinhole Community sebagai wadah komunikasi berbagai komunitas pecinta fotografi dan bertempat di Jalan Taman Pramuka, Bandung.

Proses fotografi dengan kamera tanpa lensa terdiri dari tiga tahap, yakni pembuatan kamera, pemotretan objek, dan pencetakan foto. Untuk membuat kamera bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu memanfaatkan benda yang sudah ada, misal kaleng atau bungkus produk apa pun, dan membuat sendiri kamera tersebut dengan triplek, kardus, atau bahan dasar lainnya sekreatif mungkin tergantung fotografer. Bagian tengah kamera lalu diberi lubang dan ditutup dengan alumunium yang hanya diberi lubang sebesar jarum. Kemudian gunakan lakban hitam sebagai shutter. Setelah itu, kertas foto dimasukkan ke dalam kaleng dan ditutup rapat.

Pada tahap kedua, memotret objek, yang harus diperhatikan adalah semakin besar ukuran lubang, semakin banyak cahaya yang masuk dan semakin cepat lubang dibuka-tutup, semakin tajam pula hasilnya. Melalui lubang yang kecil ini, cahaya akan direfleksikan ke kertas foto dan objek akan terlihat terbalik. Sementara itu, untuk mencetak hasilnya harus dilakukan di kamar gelap tanpa cahaya sedikit pun dan memanfaatkan tiga cairan khusus, yaitu developer, stop bat, dan fixer.

Dengan teknik yang amat sederhana itu, banyak pecinta fotografi yang lambat laun jatuh hati pada jenis fotografi yang satu ini. Bagaimana kecintaan Deni terhadap kamera lubang jarum? Bagi Deni, kamera lubang jarum menghasilkan kepuasan tersendiri. Di sana ada unsur edukasi, sains, apresiasi seni, imajinasi, dan kreatifitas. Kegilaannya pada fotografi menggunakan kamera tanpa lensa ini berawal dari hobinya memotret teman-teman di kampusnya dulu, tahun 1993-1994. “Saya belajar fotografi pertama kali masih menggunakan kamera Pentax K1000. Itu kamera pinjaman. Saya potret temen-teman Saya dan agar Saya terus bisa beli rol film yang baru, Saya gelar foto-foto itu di depan kelas. Teman-teman Saya harus beli foto yang ada muka merekanya. Bukan karena cantik, tapi mereka malu. Kalo nggak diambil, ya siap-siap aja dipajang di mading. Haha,” kenang Deni yang kini sudah sangat piawai memainkan kamera tanpa lensa.

Akhirnya, kegemaran Deni untuk mengeksplorasi berbagai jenis kamera dan trik pemotretan terus menanjak hingga suatu saat terdapat suatu titik kejenuhan dalam hidupnya ketika menggunakan kamera digital yang sudah populer tahun 80-an. Kamera lubang jarum itu menjadi suatu alternatif proses dan kelebihannya sangat menarik hati Deni dan kawan-kawannya.

Foto hasil jepretan dengan menggunakan kamera lubang jarum diyakini dapat menjadi suatu media komunikasi kritik sosial. KLJI-Bandung pernah mengadakan reporting dengan tema Papalidan Cikapundung. Hasil pemotretan mereka dapat memperlihatkan apa yang terjadi pada infrastruktur di Bandung yang semakin buruk. “Jadi, kamera lubang jarum bisa dijadikan sebagai alat propaganda karena foto yang dihasilkan lebih memperlihatkan tekstur tanah yang jauh lebih detail dibandingkan dengan foto hasil olahan digital,” tegasnya.

Masih banyak kelebihan lainnya dari kamera tanpa lensa ini, di antaranya zat kimia yang digunakan tidak berbahaya, seperti zat yang digunakan dalam kamera berlensa. Terakhir, sebuah wacana muncul dari seorang psikolog bahwa proses fotografi dengan kamera tanpa lensa ini bisa menjadi sebuah terapi bagi anak yang terkena autis.

Nah, apa sekarang Anda juga tertarik mengenal jenis fotografi yang satu itu? Tak heran jika Kang Deni [begitu Ia disapa] begitu mantap mengatakan bahwa “Kamera yang paling hebat di dunia ini adalah kamera rakitan sendiri,” pungkasnya. [Hanifah Nafiatin]

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s