Sepenggal Riwayat Dua Bangsa di Jalan Asia Afrika

“Jas merah”! Akronim milik Presiden Pertama RI, Ir. Soekarno itu tak henti-hentinya digaungkan hingga saat ini. Sedikitnya, Bung Karno meminta agar bangsa Indonesia tak sampai melupakan sejarahnya. Hal itu bertambah kuat dengan kalimatnya yang tak kalah familiar di telinga kita bahwa “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya”. Nah, salah satu bentuk penghargaan terhadap muatan sejarah adalah mengunjungi museum.

Maka jika Anda berkesempatan untuk datang ke Kota Bandung atau kota yang akrab dengan julukan Kota Kembang dan Parijs Van Java, jangan habiskan waktu Anda dengan hanya mengelilingi sudut-sudut kota, tetapi berkunjunglah ke salah satu cagar budaya Indonesia yang menjadi saksi bisu bersatunya kedua bangsa, Museum Konperensi Asia Afrika (MKAA).

Konferensi Asia Afrika sendiri diselenggarakan di Bandung pada 18-24 April 1955 dan mencapai kesuksesan besar dalam memperbesar volume kerja sama antarbangsa Asia dan Afrika. Konferensi ini melahirkan Dasasila Bandung yang kemudian menjadi pedoman bangsa-bangsa terjajah di dunia dalam perjuangan memperoleh kemerdekaannya sekaligus menjadi prinsip dasar dalam usaha memajukan perdamaian dan kerja sama dunia.

Untuk melestarikan peristiwa KAA dengan menempati lahan 7.500 meter persegi, museum KAA berdiri dan diresmikan pada 24 April 1980 oleh Presiden RI Kedua, Soeharto saat puncak peringatan 25 tahun KAA. Museum itu menjadi bagian dari Gedung Merdeka di Jalan Asia Afrika, Bandung, kota yang dipandang sebagai ibu kota dan sumber inspirasi bagi bangsa-bangsa Asia Afrika. Hingga saat ini, gedung tersebut adalah aset milik DPR/MPR yang berada di bawah pengawasan Sekretariat Negara, namun pengelolaannya ada di bawah Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Dari luar, kemegahan dan aroma menawan MKAA sudah tercium lewat gaya dua arsitektur Belanda, Van Gallen Last dan C.P. Wolff Schoemaker yang menjadikan Gedung Merdeka pekat dengan gaya art deco. Setelah berada di dalamnya, kemewahan lain tetap ditemukan dari lantai marmer Italia mengkilap, ruang santai dari kayu cikenhout, dan lampu-lampu bias kristal yang tergantung gemerlapan. Karena kekhasan gaya tersebut, tak jarang para wisatawan menjadikan tiap lekuk tubuh gedung ini sebagai objek pengambilan gambar atau lokasi pembuatan video mereka.

Terlepas dari segala macam kemewahan desain, baik interior, maupun eksteriornya, apa saja yang dapat Anda temukan di dalam Museum KAA? Setelah mendaftarkan diri di ruang pendaftaran, pengunjung yang bisa dalam jumlah besar (rombongan) atau individu langsung diajak oleh seorang guide yang menemaninya hingga pengunjung tak menyisakan satu pertanyaan pun seputar Museum KAA. Ruang pertama yang bisa dilihat adalah ruang pameran tetap yang ada pada bagian muka Gedung Merdeka. Sejumlah koleksi benda-benda tiga dimensi dan foto-foto dokumenter peristiwa Pertemuan Tugu, Konferensi Kolombo, Konferensi Bogor, hingga KAA tampak apik terpampang. Ada pula foto peristiwa yang melatarbelakangi lahirnya KAA, dampaknya bagi kancah internasional, dan diorama situasi pembukaan KAA di sudut ruang pameran tetap ini.

Selesai berkeliling di ruangan itu, pengunjung bisa langsung menuju ruang sidang KAA yang letaknya tak jauh karena bersebelahan dengan ruang pameran utama, namun dengan dinding pemisah. Biasanya, pengunjung tidak berlama-lama berada di ruang sidang ini lantaran sepi. Dengan hall besar, namun sepi aksesoris dan properti, paling-paling pengunjung berada dalam ruang sidang hanya dalam hitungan beberapa menit. Di ruang ini terdapat deretan kursi pemimpin sidang di atas panggung dan berbagai macam warna bendera yang berdiri rapi di sayap kiri dan kanannya, serta kursi-kursi peserta sidang yang masih asli sejak dimulainya sejarah, tapi tetap terawat. Tak lupa, di sudut kanan ruangan terdapat satu buah gong besar yang turut menjadi sasaran pengunjung untuk berburu foto di dekatnya.

Ruang selanjutnya yang bisa dikunjungi adalah perpustakaan MKAA yang pembuatannya diprakarsai oleh Abdullah Kamil, Kepala Perwakilan Kedutaan Besar Republik Indonesia di London pada 1985. Sejumlah buku sejarah, sosial, politik, dan budaya negara-negara di dunia, dokumen KAA, serta majalah/surat kabar hasil hibah dan pembelian tersedia di rak-rak ruangan ini dan bisa digunakan oleh siapa saja yang membutuhkan.

Ruang terakhir adalah ruang audiovisual yang menjadi sarana penayangan film-film dokumenter berdurasi sekitar 12-15 menit. Terdapat tiga jenis film yang disediakan yang masing-masing disesuaikan dengan kategori pengunjung, domestik atau asing. Kunjungan ke MKAA tak berhenti sampai ruangan ini. Jika beruntung menemukan momentum tepat bersamaan dengan kegiatan-kegiatan lainnya yang diselenggarakan di museum ini, pengunjung bisa menikmati suguhan selain keempat ruang kunjungan berpendingin ruangan itu.

Pada 20 Agustus 2010 lalu, misalnya. Selain menyusuri keempat ruang kunjungan, majalah REL berkesempatan menyaksikan pameran galeri foto “Indonesia’s Struggle for Independence: The Australian Connection”, “Islamic Monuments of India”, dan “Sayembara Desain New Museum in Historical Site”.

Setelah mengunjungi MKAA, paling tidak pengunjung bisa menambah wawasan dan pengetahuan sejarahnya. Oleh karena itu, museum ini kerap kedatangan rombongan pengunjung dari berbagai kalangan, baik untuk tujuan akademi, maupun sekedar berwisata menjelajahi salah satu tempat disimpannya berbagai benda peninggalan sejarah sambil mengabadikannya.

 

Spirit Bandung yang Tersimpan

Meski grafik jumlah pengunjung museum ini memiliki kecenderungan yang naik terus setiap tahun, Kepala Museum Konperensi Asia Afrika, Isman Pasha mengimbau agar masyarakat tidak mengidentikkan museum sebagai gudang modern. Selain menjadi tempat wisata, museum sesuai perannya adalah menjadi sarana pendidikan tangan pertama. “Museum adalah lembaga nirlaba yang menyimpan, memelihara, dan menyajikan hasil-hasil karya alam dan manusia untuk kepentingan pendidikan (study), sarana riset, dan enjoyment,” jelas Isman kepada Majalah REL di kantornya, Jalan Asia-Afrika, Bandung, Rabu (25/8) lalu.

Selain itu, menurut Isman, museum yang ia gawangi cenderung berbeda dibandingkan dengan museum etnologi atau museum kebendaan lainnya di Indonesia. “Museum KAA tidak hanya menyimpan barang, tetapi sosialisasi sejarah diplomasi dan politik Indonesia. Yang di-freeze dalam museum ini bukan hanya bendanya, tetapi yang lebih besar dari itu adalah spirit Bandung-nya,” tambahnya.

Hasil pengamatan terhadap para wisatawan mancanegara yang datang mengunjungi MKAA mengungkapkan, mereka sengaja datang ke Bandung untuk mengunjungi Museum Konperensi Bandung (nama MKAA yang lebih dikenal mereka) agar bisa melihat dan merasakan langsung gegap gempitanya suasana pada saat KAA terjadi.

Menyoal jam kunjungan, meski jadwal yang tertera adalah setiap Senin-Jum’at pukul 08.00-15.00 WIB, Isman menegaskan bahwa MKAA tetap buka pada Sabtu dan Minggu dengan jam yang sama. “MKAA setiap hari buka, kecuali hari-hari libur tertentu pada tanggal merah. Ke depan, kami berencana mengubah jam kunjungan agar buka lebih siang dan tutup lebih malam. Itu karena jam kunjungan sekarang belum disesuaikan dengan jam kerja dan jam sekolah,” ujarnya.

Tak hanya dimanjakan dengan jadwal kunjungan yang terbuka setiap hari, Anda sebagai calon pengunjung juga relatif mudah menemukan lokasi museum ini. Letaknya tak jauh dari Masjid Agung dan Alun-Alun Kota Bandung. Anda bisa mengidentifikasi keberadaan MKAA lewat tulisan Gedung Merdeka yang sudah bisa dilihat dari tepi jalanan Asia Afrika. Atau bagi Anda yang tak asing dengan Jalan Braga yang ada di Kota Bandung, beberapa meter dari jalan tersebut lah Anda akan sampai di bagian Timur Gedung Merdeka dan akan Anda temukan deretan huruf berbunyi “Museum Konperensi Asia Afrika”. Jika sudah menemukan tanda-tanda itu, selamat! Anda telah sampai di museum yang konsisten memakai kata “Konperensi”, bukan “Konferensi” pada namanya. Tanya kok gitu? Datanglah ke tempat disimpannya spirit dan riwayat dua bangsa ini. [Hanifah Nafiatin, mahasiswa Ilmu Jurnalistik Fikom Unpad]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s